Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan

10 Mantra Penyajian Berita yang Harus di Perhatikan Wartawan

sumber gambar: pexels
“Beda orang, beda gaya. Beda gaya, beda karakter, beda karakter, beda seragam”. Seperti halnya menulis. Apalagi menulis sebuah berita yang pada dasarnya merupakan naskah yang akan dipublikasikan menjadi konsumsi masyarakat banyak. Lain wartawan lain pula karakter tulisannya, padahal mereka memegang 10 prinsip penyajian berita yang sama. Apa saja ? Perhatikan satu persatu.
1 5W+1H
Merupakan teori klasik  tapi paling wajib dalam sebuah penyajian sebuah berita. Berisi what apa, who siapa, why mengapa, where dimana, when kapan How bagaimana. Teori ini seakan menjadi ruh dalam sebuah naskah berita. Jika sebuah berita tidak mengandung keenam unsur ini, anda dapat pastikan bahwa naskah tersebut bukan berita.
Contoh sebuah berita yang mengandung unsur 5W+1H. Buka link berikut: DuaGanda Indonesia Tumbang di Babak Pertama.
2. Piramida Terbalik
Merupakan persyaratan dasar dalam struktur penulisan berita oleh seorang wartawan. Penggunaannya menitikberatkan pada penulisan khususnya straight news, bukan feature. Jika digambarkan seperti ini;
      
3. Angle (Sudut Pandang)
Berbeda dengan mantra sebelumnya, ini adalah hal yang membuat seorang wartawan bisa dikenal. Bayangkan saja, tempat liputan sama, sumber berita sama, begitupun materi berita. Semua sama namun hasil yang diterima redaktur dari sejumlah wartawan berbeda. Ini musabab dari angle yang di ambil oleh wartawan tak seragam. Ilustrasi sederhananya, Jika wartawan A meliput peristiwa kebakaran dengan angle “kebakaran pasar Caringin merugikan sekitar 759 Jt”, beda dengan wartawan B yang meliput angle “kebakaran pasar Caringin menewaskan 45 orang karyawan yang sedang menjaga kios ”. Detail informasi tersebut hanya bisa terkuak melalui pengembangan dari teori 5W+1H.

4. Lead atau akronim dari teras berita
Merupakan unsur kedua setelah penamaan judul agar pembaca merasa penasaran dan menemukan informasi yang selama ini dicari. Seperti halnya orang ketika mendengarkan sebuah musik, orang sering tergoda tatkala mendengarkan intronya yang enak. Begitupun membaca, orang akan merasa interested banget ketika kita menyuguhkan kalimat yang dibalut bersama diksi yang pas.


5. Akurat/Akurasi
Nah ini termasuk penting juga. Wartawan profesional harus senantiasa menyuguhkan atau menyiarkan atau menayangkan berita yang akurat. Artinya tidak ada kesalahan dalam penulisan ejaan diri, tempat, istilah, jumlah apalagi keliru kala mempublikasikan data. Karena apa? Pasalnya ketika sebuah lembaga pers bertindak konyol (tidak akurat), mereka akan kehilangan kepercayaan, kredebilitas mereka sebagai lembaga pers dipertanyakan. Lebih parah lagi kehilangan reputasi dari pembaca / audiensnya. Makannya untuk mengantisipasi hal ini, ada beberapa langkah; Cek dan recek; Konfirmasi; Memelintir Berita.


6. Mengkloning berita
Perbuatan seperti ini tidak melanggar kode etik jurnalistik. Artinya pembuatan berita berdasarkan pada berita-berita yang sudah ada. Wartawan terkait tidak melakukan liputan langsung, hanya mengutak-atik atau memoles berita yg sudah ada. Tapi menurut penulis penyajian berita seperti ini tidak untuk direkomendasikan. Hanya untuk bahan informasi saja.

7. Bahasa Jurnalisik
Ini menjadi mantra selanjutnya, adalah bahasa. Wartawan adalah orang yang menceritakan kembali tentang suatu peristiwa. Jika wartawan yang berprofesi di media cetak, maka ia akan bercerita dengan bahasa tulisannya. Oleh sebab itulah, bahasa wartawan harus senantiasa singkat, padat, jelas, sederhana, lugas dan yang terpenting adalah selalu menarik.

8. Kode Wartawan
Dalam sebuah tradisi jurnalistik, setiap berita yang ditulis pasti menggunakan kode nama siapa penulis tulisan pembuatnya. Ini sebagai bentuk tanggung jawab jika nantinya ditemukan kesalahan dalam pembuatan laporan atau sebuah tanda jika wartawan tersebut bekerja dengan baik. Contoh sederhana Goenawan Muhammad (GM) atau Dahlan Iskan (DIS) begitu pula dengan Najwa Shihab (NSB).

9. BY Line
Ini kebalikan dari sistem kode wartawan. Istilah by line merupakan sebuah rujukan yang menyebutkan penulisnya tanpa alias / anonim. Pers di Indonesia mungkin bisa dikatakan nyaris tidak ada media yang menggunakan nama penulisnya. Mungkin baru The Jakarta Post yang menggunakan. Biasanya nama penulis ditulis tepat dibawah judul dan sebelum kata pembuka untuk lead di tulis.

10.  Deadline
Ini seolah menjadi jam pasir bagi seorang wartawan. Deadline atau batas waktu (tenggat waktu) adalah batas terakhir yang ditentukan oleh lembaga pers terhadap wartawannya untuk mengumpulkan laporan agar segera terbit. Untuk ukuran media cetak yang terbit skalanya tiap hari, deadline biasanya pukul 22.00 atau 24.00. Deadline menjadi vital dalam manajemen redaksi media massa. Karena mempertimbangkan aktualitas dari berita. Apalagi straight news.

Dan itulah kesepuluh mantra penyajian berita yang bisa anda pelajari sebagai langkah awal menjadi seorang jurnalis profesional. Selamat menjadi jurnalis.

Selain Jenjang karier, Nieman harus menjadi prioritas bagi Wartawan

sumber gambar: pexels.com
Sebagai pekerja profesional, wartawan juga mempunyai jenjang karier. Cepat-lambat dan sukses atau tidaknya karier seorang wartawan sangat bergantung pada kemampuan wartawan bersangkutan. Setiap dari jenjang karier ini mempunyai tahapan tersendri untuk mencapai puncak kariernya.

Biasanya, diawali dengan sebagai reporter yang bertugas mencari atau meliput berita di lapangan. Kemudian meningkat menjadi redaktur yang bertugas menangani halaman. Satu tingkat jabatan dengan ini, seorang wartawan biasanya diangkat menjadi koordinator liputan atau koordinator reportase. Selanjutnya melenggang menjadi pemimpin redaksi atau dalam dunia tv setara dengan jabatan seorang produser.

Hanya saja jenjang karier bagi seorang wartawan bukan terletak pada jabatan yang sedang dipegangnya. Karena karier seorang wartawan dikatakan cemerlang, mempunyai prestasi bagus adalah karena sebuah karya jurnalistiknya. Eksistensinya melejit di masyarakat luas bukan karena ia seorang redaktur pelaksana melainkan reporter biasa yang meliput peristiwa yang berkualitas.

Namun, ada hal yang lebih bergengsi dari pada sekedar mengejar eksistensi atau mengejar tampuk kepemimpinan dalam sebuah media pers. Adalah Nieman Fellowship, beasiswa dari Harvard University. Apakah Nieman Fellowship? Dikutip dari laman Nieman Fellowship,

“Nieman began as a fellowship for select journalists to spend an academic year at Harvard in pursuit of individual study plans to strengthen their knowledge and leadership skills. That program recently celebrated its 75th anniversary; more than 1,400 journalists from nearly 100 countries have been awarded Nieman fellowships since 1938. Recently we added a short-term visiting fellowship for individuals with a specific project to enhance journalism who would like to spend up to 12 weeks at Harvard advancing their idea. Visiting fellows have included digital innovators, technologists, academics, and journalists from the U.S. and abroad.

Dan sebagai pertanyaan lanjutan dari judul artikel ini, mengapa Nieman harus menjadi prioritas?

Karena indonesia butuh lebih banyak wartawan berkualitas. Memang banyak penerbitan baru atau pun pendirian radio-radio di Indoensia, hanya saja persoalan sumber daya manusia masih saja menjadi permasalahan yang tak kunjung usai. Dan di indonesia hanya ada beberapa Perguruan tinggi yang punya jurusan jurnalisme, sebut saja Unpad Bandung, IISIP Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Surabaya (Hasono; 21).

Dan Alternatif untuk memecahkan masalah ini adalah dengan dengan berburu beasiswa, ambil contoh Nieman Foundation di Harvard. Indonesia sejak Program ini berdiri 1938 hanya memiliki tiga alumni; Saban Siagaan (The Jakarta Post), Goenawan Muhammad (Tempo) , Ratih Hardjono (Kompas) dan Andreas Harsono (The Bangkok Post).

Bagaimana Untuk mendapatkannya ?

Mengutip Naskah Andreas dalam buku “Agama saya Jurnalisme” pendekatan mendapatkan beasiswa yang baik sama dengan cara kita mendekati suatu berita. Menggunakan teori klasik 5W+1H. Lebih banyak detail yang kita dapatkan lebih baik. Selain itu, kita juga sebisa mungkin harus mendapatkan rekomendasi​ dari instansi  terkait yang mempunyai hubungan baik dengan kurator Nieman Foundation.

Selain itu, anda jangan terlalu berambisi untuk  mendapatkan beasiswa Nieman, pasalnya hal yang harus menjadi fokus utama adalah bagaimana cara anda melakukan persiapan dan riset. Karena hal ini yang bisa membantu anda mematangkan proses seleksi.

Sebagai catatan terakhir, soal bahasa inggris, jangan terlalu dipikirkan karena hal utama dalam penilaian ini adalah, sejauh mana anda faham dalam dunia pers dan jurnalistiknya. Mungkin ukurannya adalah kemampuan kita untuk berdebat atau membuat laporan tentang jurnalisme. Atau setidaknya kita paham dengan apa yang dikatakan dosen ketika memberikan materi.

Karena kemampuan berbicara anda dalam bahasa inggris akan terbawa oleh kawan-kawan kita yang mayoritas orang Amerika dan mereka bicara bahasa inggris sejak bayi.
Selamat Mencoba. 

Menyiapkan Naskah Feature


Bagi kalangan praktisi media, feature (picer) adalah jenis tulisan yang akan menentukan ciri khas dari sebuah lembaga pers miliknya. Selain karena tulisan ini mutlak ditulis oleh redaksi sebuah media cetak, baik yang skala mingguan ataupun bulanan, juga menyajikan informasi “lebih” yang sukar ditemukan dalam naskah berita jenis straight news.

Apa alasan feature menjadi naskah yang khas adalah karena ia mampu menuturkan fakta disertai dengan penjelasan kronologi, pembentukan kejadian dan cara kerja sebuah peristiwa bagaimana terjadi. Selain itu naskah ini tidak melulu menggunakan teori klasik pembuatan berita dengan 5W+1H
.
Feature lebih mengedepankan unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) sebuah peristiwa bisa terjadi. Identifikasi untuk mengetahui sebuah naskah bergenre feature bisa kita gunakan dua langkah sederhana;
Satu. Feature merupakan  naskah yang mengandung human interest artinya naskah yang mampu menggiring pembaca untuk menaruh simpati ataupun empati, terhibur atau merasa terharu.

Dua. Bahasa yang dipakai dalam naskah ini tidak baku, feature tidak segan untuk menggunakan bahasa sastra dalam naskahnya oleh sebab itu, tulisannya hampir mirip dengan gaya penulisan baik cerpen atau pun novel.

Maka dalam beberapa referensi bacaan saya, kita bisa membedakan tipe feature dari jenisnya;
Jenis feature yang membahas tentang riwayat hidup seorang tokoh inspiratif, berjasa  apalagi dengan segudang prestasi atau seseorang yang memiliki keunikan tersendiri. (Feature Pribadi-Pribadi Menarik).

Jenis feature kunjungan ke tempat bersejarah, wisata kuliner ataupun berkunjung ke tempat yang keberadaannya terdengar asing dan jarang di jamah banyak orang. (Feature Perjalanan).

Feature yang naskahnya fokus membahas peristiwa masa lalu, contoh kejadian Mei 89 (Trisakti) dengan menggunakan angel baru sehingga menimbulkan kesan masih aktual.

Struktur tulisan

Struktur feature biasanya tersusun menggunakan pola kerucut terbali, yang terdiri dari; Judul (Head), Teras (lead), Bridge/Jembatan antara lead dan body, Tubuh (Body) dan Penutup.


Sebagai catatan penting dalam menyiapkan naskah feature adalah;lead (prolog) sangat berperan penting dalam membangun tulisan sehingga menarik perhatian. Karena disini berisi hal terpenting untuk membuat pembaca merasa penasaran dalam naskah yang disuguhkan.

Menjadi SmartPHONE

sumber gambar: www.pexel.com

Mengambil sikap membatasi diri untuk menjauh dengan teknologi sudah bukan menjadi pembahasan yang menarik. Internet misalnya, tumbuh pesatnya pengguna internet akan berbanding lurus dengan pengadaan  tower jaringan di setiap sudut tempat. Dalam tulisan saya sebelumnya, sudah membahas bagaimana pertumbuhan pengguna internet di berbagai negara berdasarkan populasi. Dan hasilnya luar biasa.
Adalah smartphone berbasis android atau IOS yang mengubah cara beraktivitas menggunakan jaringan internet terasa mudah. Dimanapun anda, serta apapun yang anda lakukan smartphone merupakan alternative anda dalam berkisah. Ia sanggup menampung apapun keluh kesah, berbagai rupa bahagia, juga tak jarang ikhlas kala dibagi masalah.
Apapun argumennya, kehebatan smartphone ini tidak mudah begitu saja diruntuhkan. Meskipun selalu ada dua sisi ini yang menjadi pertimbangan. Dalam bukunya The Shallow karya Niccolas Carr, dalam bab pertama ia memberi judul “Penjaga dan Pencuri”. Dua kata ini bisa saja serta merta mewakili apa yang dilakukan internet terhadap kita.
Satu sisi, ia adalah penjaga agar kita selalu up to date terhadap informasi yang sedang terjadi dan juga tetap terhubung dengan orang-orang yang berada di luar sana. Sisi lain, Mencuri watak in-­command kita. Kita tidak berdaya memegang nilai independen pada diri. Bagaimana bersikap? Bayangkan saja, McLuhan mengungkapkan, “internet mengubah pola persepsi secara terus menerus dan tanpa ada perlawanan”.
Berbagai informasi selalu tersaji dalam layar genggaman, swap dengan satu tarikan jari, bisa mengantarkan penggunanya ke berbagai destinasi tergantung hal menarik yang diminati. Mungkin itu salah satu yang menyebabkan internet sulit untuk ditinggalkan.
Meskipun sajian informasinya sering ditemukan bias keabsahannya. Isu tentang hoax tidak serta merta digubris para user untuk meninggalkan kejahatan internet di smartphone. Beberapa orang ada yang mengingatkan, sebagian lagi sibuk menggunakan. Sehingga kebencian bukan lagi soal.
Tersebarnya konten di internet yang bersifat hoax (bohong) tidak bisa di identifikasi secara langsung. Pengunggah akan menikmati hasil postingannya sampai terbaca oleh jutaan oarang di dunia maya. Jika webnya terpasang iklan, ia akan menikmati pundi uang yang tersimpan dalam rekening miliknya. Hal  ini yang menjadikan hoax bertahan. Penggemarnya banyak.
Namun hanya ada satu hal yang mengetahui tentang status sebuah informasi itu bohong atau benar. Ia adalah smartPHONE.

Menjadi Wartawan? Perhatikan 7 Syarat Mutlak yang Wajib Anda Miliki.

sumber gambar: www.pexel.com
Pasti dalam setiap pekerjaan akan ada hal penting untuk dijadikan sebuah keahlian. Apapun pekerjaannya, kredibilitas adalah perhitungan utama yang ditanyakan. Begitupun Wartawan. Tidak bisa orang sembarangan berprofesi sebagai wartawan tanpa ada ilmu yang bisa menunjangnya. Jika anda tertarik dan passion anda condong kesana, 7 hal ini akan membantu anda mewujudkannya.
Satu. Profesi wartawan selalu berkutat pada pena dan kertas. Artinya mencatat/menulis sudah menjadi pokok utama dalam bekerja. Tidak heran jika keterampilan menulis sangat diperhatikan dalam profesi ini. Minimal anda mempunyai hobi menulis. Untuk meneruskannya, menjadi wartawan bisa ditempuh sebagai jalan utama untuk merubah hobi anda menjadi uang. Karena pekerjaan yang enak itu adalah hobi yang dibayar.
Dua. Selain terampil menulis, syarat kedua adalah anda bukan seorang “pribadi pemalu”. Pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang melibatkan banyak orang. Narasumber yang harus kita wawancara, kantor yang penuh dengan staf redaksi, apalagi dengan khalayak di temui. Apabila tidak bisa tampil di depan publik? Bagaimana bisa untuk mendapatkan informasi yang akan di olah menjadi berita? Mungkin mengkloning, itupun jika anda berani minta kepada wartawan lain. Kan anda  pemalu? Bukan.
Tiga. Memperhatikan Bahasa. Menjadi wartawan harus mempunyai keterampilan bahasa selain bahasa indonesia. Minimal menggunakan bahasa inggris bukan hal yang asing lagi. Kata orang bijak, bahasa adalah mata uang tunggal dalam jurnalisme. Artinya, dalam profesi dan praktik jurnalistik, bahasa memainkan peran yang sangat vital dan menentukan.
Empat. Selain bukan pemalu, wartawan harus Supel. Artinya mudah bergaul dengan orang dan  lingkungan  baru. Proses adaptasi seorang wartawan harus paling up to date. Karena profesi ini tidak memungkinkan untuk menghindari orang. Maka mental harus diasah jika kita serius untuk jadi wartawan.
Adalah yang ke-5, all  out. Syarat kelima meliputi; pekerjaan ini menuntut orang senang akan petualangan, menjelejahi setiap khasanah jagat raya, memahami makna dari hikmah. Senang akan tantangan, tidak mudah menyerah dalam setiap masalah, berani mengambil resiko, juga tidak takut membela kebenaran. Terdepan dalam berkorban serta tidak mudah panik ketika bekerja di bawah tekanan.
Enam. Peka. Untuk menjadi wartwan profesional anda harus peka melihat kondisi yang nampak ataupun tidak. Istilahnya panjangkan telinga dan perkuat penciuman. Karena peristiwa/informasi penting selalu tak kasat mata. Peristiwa yang “good news” selalu di redam tidak untuk di blow up. Maka isu itu penting untuk di klarifikasi dalam mengolah data.
Tujuh. Tampil beda. Tampil beda adalah syarat yang membuat anda bisa mudah terkenal, gampang di ingat dan akan selalu menjadi prioritas. Maksudnya tampil beda dalam melihat sebuah peristiwa, mengambil sudut pandang berita yang orang sukar di tebak dan selalu memunculkan “khas” bahwa itu anda.

Dari tujuh tips ini, anda harus praktekan semua. Karena tidak menutup kemungkinan, sesuatu yang anda dapatkan hari ini bisa bermanfaat dikemudian hari. bukan untuk di petik esok ataupun lusa. Terimaksih. Salam Pers.   

Mantra Menyiapkan Naskah Berita

Sumber Gambar: RadarSorong.com
Tulisan saya ini adalah sebuah manifestasi pikir yang terjawantahkan dalam kata tentang apa yang disebut berita. Apa yang anda pikirkan tentang berita? Mengapa dalam sebuah surat kabar harus ada berita?
Alasan sederhanya adalah berita (adalah laporan) yang sudah menjadi suatu kelaziman dalam lingkup media massa, baik cetak begitu pun elektronik, keberadaan berita adalah hal wajib yang apabila tidak ada rubrik berita, maka haram hukumnya.
Untuk ingin mengetahui bahwa naskah yang kita baca berita atau bukan, saya akan membagikan tips tentang "identifikasi berita" . Berikut pemaparannya.

  1.  Berita itu harus aktual. Aktual di sini adalah sebuah peristiwa yang kejadiannya masih baru (up to date) bisa juga diartikan sebagai peristiwa tersebut tidak melebihi dari waktu 24 jam. Kalau pun demikian, peristiwa ini masih bisa dimuat apabila "sudut pandang" yang digunakan tidak bersifat mengikat.
  2. Faktual. Selain beritanya tidak basi, nilai kedua adalah sesuai dengan kenyataan. Fakta ini nantinya diolah  menjadi data yang akuntabel dari seorang wartawan atau lembaga pers bersangkutan.
  3.  Penting. Nilai berita yang satu ini tergantung kepada siapa suatu peristiwa menerpa. Setiap orang tidak sama orientasinya. Tapi tugas wartawan adalah memberikan informasi yang rata. Sebagai contoh; Tidak semua orang tertarik dengan Pemilihan Pemimpin Negara, hanya saja informasi tentang terpilihnya kepala negara baru harus diketahui semua rakyat.
  4.  Tidak biasa. Kejadian yang bisa dimuat dalam sebuah berita apabila mengandung nilai di luar kelaziman, aneh, atau hal-hal ganjil. Contoh; Kelahiran bayi kembar 12 atau tentang manusia pemakan daging sesamanya.
Dari keempat point diatas sebenarnya bisa saja anda menambahkan nilai lain untuk dimuat sebagai berita seperti Humor, Seks, Profil seorang Tokoh, dan nilai kedekatan (proximity). Pada dasarnya apapun kejadiannya, hal pertama yang harus anda pertimbangkan jika membuat sebuah berita adalah seberapa manfaat informasi itu jika dimuat.
Sedikit tulisan tips ini semoga berkenan dan menjadi bahan inspirasi untuk anda. JIka butuh sumber bacaan, komentar di bawah.

Mantra Jenis-jenis Jurnalistik

Sumber Gambar: Ilustrasi Google

Varian Rasa Mantra Jurnalistik

Tulisan saya kali ini akan berbagi tentang bentuk-bentuk jurnalistik. Sebagai orang yang ingin serius menggeluti ranah jurnalistik, materi ini bisa membantu banyak sebagai langkah awal memulai bekerja sebagai profesional media. Meskipun materi ini sifatnya teoritis, bukan berarti tidak penting untuk dipalajari sebagai bekal dalam menjalankan prakteknya di lapangan.

  1. Jurnalistik Media Cetak. Dalam tulisan saya yang lain, kita bisa mengetahui bahwa media cetak untuk pertama kali hadir sebagai media jurnalistik. Bagaimana setelah mesin cetak ditemukan, pers bisa diproduksi dan beredar dalam skala banyak. Sebagai catatan penting, dari segi format dan ukurannya, media ini memiliki tiga ciri khas; Broadsheet (berukuran surat kabar umum/koran), tabloid (ukurannya setengah dari format Broadsheet), dan majalah (Setengah ukuran dari tabloid). Selain dari ukuran, ketiga format ini berbeda pula dari skala terbitnya
  2. Jurnalistik Media Elekronik.Setelah media cetak, varian jurnalistik lainnya adalah media elektronik khususnya radio dan TV. Dalam hal ini termasuk  film, meskipun film dalam prakteknya tidak spesifik memuat berita sebagai konten utmanya. Seperti genre film dokumenter masuk dalam jurnalistik yang menampilkan audio visual sebagai kekuatan media elektronik dibanding media cetak.
  3. Jurnalistik Media Online. Tumbuh pesatnya internet sebagai new age media memunculkan persaingan dalam bisnis media. Beberapa perusahaan media cetak berhenti beroperasi dan beralih kepada jurnalistik online. Meskipun tidak sedikit yang bertahan dan menjadikan media online sebagai otoritas kedua. Bermunculannya media online seperti, detik.com, okezone.com, inilah.com, sebagai persaingan baru dalam bermedia online.
  4. Jurnalistik Citizen Journalism. ini bisa dikatan varian baru jurnalistik. pasalnya citizen journalism mengusung  berita yang disajikan bukan hasil mencari dan diolah oleh wartawan profesioanal, melainkan oleh warga biasa. Nantinya berita hasil report warga akan di publikasikan ke media yang menyediakan ruang jurnalisme warga ataupun media milik warga sendiri- seperti; blog, majalah, buletin, radio atau sebagainya. 
Itulah setidaknya 4 Varian (Jenis) dalam Jurnalistik yang dapat saya bagikan. semoga informasinya berkenan dan bermanfaat.

Pengantar Ilmu Jurnalistik

Sumber Gambar: Google

Sebuah permulaan, JURNALISTIK !

Beberapa diantara kita mungkin pernah berfikir tentang sejak kapan berita menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana bentuk jurnalistik seperti media cetak, radio, juga TV bisa bermunculan dan hadirnya internet menambah kekuatan media pers dan jurnalistiknya.
Mengapa kita harus mengkonsumsi berita sebagaimana memenuhi kebutuhan lain, seperti makan, bekerja dan tidur ? Untuk apa keberadaan berita dipertahankan dan mengapa banyak orang rela menginvestasikan hartanya untuk bisnis media?
Pertama, kita harus tahu dasar bagaimana produk jurnalistik pertama kali terbentuk. Pada tahun 59 SM bangsa roma kuno (Romawi) menerbitkan untuk pertama kalinya surat edaran bernama Acta Diurna yang terbit setiap hari. Pembahasan yang muncul dalam Acta Diurna adalah prihal peristiwa-peristiwa sosial dan politik.
Selain Acta Diurna, pada masa pemerintahan Dinasti Tang di Cina, muncul Pao atau dalam istilah lain laporan sebagai produk jurnalistik yang diterbitkan oleh kepemerintahannya. Tidak hanya di Roma dan China, Eropa Tengah yang pada saat itu Switzeland dan inggris pada awal abad ke-14 membuat surat kabar True and Countre yang dipelopori oleh Richer Fawks.
Setelah itu mengutip dari buku yang ditulis Bill Kovach dan sahabatnya Tom Rosentstiel “The Elements Of Journalism” pada abad pertengahan mencatat, berita datang dalam bentuk lagu dan cerita, dalam balada-balada yang disenandungkan para pengamen keliling.
Selanjutnya pada tahun 1450, Johann Gutenbuerg dari kota Mainz Jerman membuat mesin cetak yang pertama kali di jagat raya. Dari sinilah asal muasal surat kabar pertama terbit yang diberi nama Avisa Relation Order Zaitung di Eropa tahun 1609.
Tidak lama setelahnya munculah secara menjamur lembaga-lembaga pers. Dikutip dalam buku The Jornalist karya Zainuddin HM (Bandung, 2007). Saya akan memberikan informasi lanjutan kepada anda dalam bentuk tabel dibawah ini.
No
Nama Surat Kabar
Pertama Kali Terbit Di
Tahun
1
Avisa Relation Order Zaitung
Jerman
1609
2
Courante Mijn Verathy de Qualteren
Belanda (terbit dalam bahasa; Belanda, Perancis dan Inggris)
1618
3
The Boston News Latter
Amerika
1704
4
Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonamrnten
Indonesia (Hindia-Belanda)
1744
5
Javasche Courant
Indonesia (Pemerintahan Gubernur Jendral Deandels)
1929

Sedangkan pelopor utama sebagai pers nasional adalah surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907. Media pers yang dikelola oleh para priyayi ini di pimpin oleh RM Tirtadisuryo yang pertama kali terbit secara berkala seminggu sekali.
Tidak mau kalah sama Medan, Jakarta menjelang abad ke -20 terbit pula surat kabar Taman Sari yang dipimpin oleh F. Wiggers dan Surat kabar Pemberita Betawi yang dibawahi oleh  J. Hendrik. Begitupun di Bandung, terbit pula Pewarta Hindia pada tahun 1894 yang dipimpin oleh Raden Ngabehi Ta dan Bintang Pagi yang terbit untuk pertama kalinya di Semarang.
Begitulah secara singkat, bagaimana munculnya asal muasal kegiatan jurnalistik. Bagaimana lembaga pers dan jurnalistik sebagai produknya hadir ketika formulasi mesin cetak yang ditemukan Johann Gutenbuerg.
Kini, perkembangan jurnalistik semakin berkembang pesat, ditambah lagi media internet ikut meraikan hingar bingar kegitan jurnalistik sebagai publisher tercepat dan tercanggih.
Meskipun hari ini ada angapan bahwa internet merupakan awal bermula kemunduran untuk ranah jurnalistik. Karena akuntabilitas berita yang ada di internet banyak memunculkan problematika, seperti halnya, Hoax dan Clickbait.

Pembahasan selanjutnya akan dipaparkan dalam tulisan selanjutnya. Terkait Problematika Jurnalistik di Internet dan Bagaimana seharusnya Netizen bersikap.

Mari Berjurnalistik !

             Sumber Gambar: Kompasiana
Salah satu faktor maju mundurnya sebuah bangsa tidak terlepas dari perkembangan dunia persnya. Peran penting para wartawan dalam mencari, menghimpun data dan menyebarkannya merupakan kegiatan yang terbilang sukar jika tidak dibekali dengan ilmu kejurnalistikan. Membuat informasi yang dipercaya keabsahannya merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat penting.
Ketika pertanyaan muncul tentang bagaimana mengasah keahlian untuk menjadi jurnalis profesional ? Ada beberapa langkah yang bisa kita aplikasikan tergantung tingkat kesukaan. Saya akan memaparkannya dalam 4 langkah sederhana.
Langkah pertama bisa ditempuh dengan pendidikan formal, menjamurnya minat orang terjun dalam bidang ilmu komunikasi massa spefikasi jurnalistik, hal ini membuat pemerintah begitupun lembaga swasta mendirikan institusi yang didalamnya mengkaji studi jurnalistik. Seperti UI (Depok), Unpad (Bandung), UGM Yogjakarta, Trisakti (Jakarta) dan Undip (Semarang). Merupakan Perguruan tinggi negeri dan swasta yang berhasil mencetak lulusannya menjadi jurnalis profesional.
Langkah kedua, bisa dengan mengikuti pendidikan non formal. Dalam artian, tidak perlu kuliah mengambil konsentrasi jurnalistik. Kita bisa mengikuti kursus yang di dirikan oleh beberapa institusi dari luar pergurusn tinggi. Sejumlah lembaga kursus jurnalistik bisa dengan mudah ditemui, seperti di Jakarta, Surabaya, Medan dan Yogjakarta. Kehadirnnya ini bukan maksud ada anggapan bahwa lembaga formal yang dalam hal ini perguruan tinggi tidak becus atau kurang baik.
Kemunculan lembaga kursus ini tak lain dan tak bukan untuk memperkuat. Lebih jauh lagi, lembaga kursus bisa dijadikan untuk orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar secara formal. Pasalnya, ketika pendidikan formal terbatas dengan usia dan memakan banyak biaya, seballiknya dengan lembaga kursus, biaya ditagihan (Iuran) lebih murah dan bisa diikuti oleh berbagai kalangan.
Langkah Ketiga, kita bisa belajar sendiri tanpa harus terikat oleh jam kuliah dan jadwal kursus, tidak perlu pula berangkat ke kampus ataupun pergi ke tempat kursus. Dimanapun, kapanpun kita bisa memulai belajar jurnalistik dengan buku sebagai pengajarnya. Karena kita tidak lagi kesulitan menemukan buku-buku jurnalistik. Tidak mampu untuk membeli, kita bisa menggunakan perpustakaan-perpustakaan daerah sebagai sarananya.
Dari ketiga langkah diatas, kita bisa memilih sesuai tingkat kemampuan, minat serta melihat situasi dan kondisi. Baik itu dengan daftar menjadi mahasiswa, anggota lembaga kursus ataupun indepnden dalam mencari pemahaman kejurnalistikan. Tergantung kita yang menentukan dan cara belajar seperti apa yang kita sukai.
Sebagai tambahan, ini masuk kepada langkah keempat. Selain dari pada ketiga langkah diatas, kita juga bisa ikut serta sebagai anggota komunitas penulis yang kajiannya tidak cenderung dengan sastra. Langkah ini bisa menjadi alternatif kedua karena selain bebas biaya, juga tidak bersifat  mengekang alias bebas.

Titik tekannya dalam mengerjakan apapun adalah pada seberapa persen orientasi yang ada pada diri kita. Kedua, Seberapa besar kita mencintai proses belajar ? sehingga cara cepat tidak lantas diambil sebagai jalan. Karena yang instan Cuma hanya mie. Selamat Berkarya !

Sebagai Muslim, Kaji Ulang Steatment “Good News Is A Bad News” di Media

.
      Sumber Gambar: Google.Inc
Membuka tulisan ini dengan kutipan khas jurnalistik yang berkenaan dengan paradigma pers adalah "Bad News is a Good News”.
Istilah ini populer dikalangan para jurnalis sebagai patokan kriteria dalam pencarian berita. Ibarat tertiban durian runtuh, jurnalis yang mendapatkan berita “buruk” seolah mendapatkan oase di tengah padang pasir. Pandangan saya mengenai statment ini ada dua; pertama, mengambil sudut pandang agama islam, ini bisa mendekati kepada “ghibah”.
Sebagaimana  Firman Allah SWT yang tertulis dalam Al-Qur’an AL Hujurat ayat 12, “Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Apakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allaah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Kedua, ketika digunakan dalam konteks penyajian berita, hal ini tergantung bagaimana masyarakat menerimanya. Mereka akan melihat berita bad news ini sesuatu yang mempunyai pesan moral untuk senantiasa berbuat baik. Namun jika masyarakat menilai bahwa berita "bad news" adalah sesuatu yang biasa dilakukan dan tidak terdapat hukuman sosial didalamnya, maka itu yang celaka. Contoh kasus, maraknya korupsi di Indonesia merupakan sebab alasan utama sumber daya manusia kita tidak pernah bisa diperhatikan, imbasnya kemiskinan sudah bukan lagi bentuk dari penderitaan. Hal ini bisa jadi karena pemberitaan media terhadap pejabat korupsi tida k pernah surut.  
Kasus korupsi di “tanah air beta” ratingnya selalu ada di puncak, tidak mau turun. Dalam teori social identification kita harus mengenal bahwa prilaku seseorang akan dipengaruhi oleh prilaku orang lain disekitarnya. Bisa jadi, karena kebanyakan para pejabat yang padahal (karyawan rakyat) ini selalu membuka praktek korupsi, mengakibatkan orang-orang idealis merubah visinya dengan sedikit realistis.
Menjadi sebuah pilihan yang sukar menentukan jawaban, sebenarnya tidak ada yang salah dengan paradigma yang membuat wartawan keki dalam mengambil sikap. Harus ada sinergitas dengan membangun integritas satu visi antara lembaga pers dan hukum. Kejelasan hukum di Indonesia masih bisa tersamarkan dengan awan hitam berbentuk dolar, Hakim masih doyan di suap pake rupiah. Dan masyarakat hanya menjadi pembayar pajak yang taat.
Sehingga Alternative yang dipakai dalam persoalan ini kembali kepada masyarakat. Bagaimana mereka harus mampu mengawal pemerintahan yang sudah terkekang system jahanam. Optimalisasi keberadaan mahasiswa sebagai agent of change, pemberdayaan mahasiswa kritis dalam melihat gejala yang rusak. Bukannya mahasiswa yang terbangun dalam “i love you too” setiap hari berdurasi 3 jam di TV Masa Kini. Kita sebenarnya tidak bisa menggantungkan peruntungan pada orang lain. Malah sebaliknya mereka yang “katanya” membawa perubahan terhadap daerah kekuasaannya  yang menggantungkan diri kepada rakyat. Kalau rakyat gak mau milih dia? Iya terpaksa, bermain lagi di proposal dan proyek.

Bagi Jurnalis, ketika dihadapkan dengan beberapa peristiwa yang mengandung nilai-nilai berita, besar kemungkinan mereka akan meliput semua  peristiwa untuk dikemas menjadi tulisan utuh, tanpa menuai pertanyaan, Apakah ini Bad News or Not?. Bad News Is A God News mungkin dalam masa kadaluarsa.

Ternyata ini Janji Anies-Sandi, Biasa Saja.

Sumber Gambar: Ilustrasianiessandi.com

Perhelatan Pilkada untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta memasuki babak baru. Setelah tidak menghasilkan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada putaran pertama, karena dari ketiga pasangan calon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50%. Kini pasangan Calon (Paslon) No Urut 3 Anies-Sandi bertarung dengan Paslon No Urut 2 yang merupakan Pertahana DKI Jakarta Basuki Djahja Purnama-Djarot Saipul Hayat karena keduanya Unggul dari pasangan Agus-Sylvi.
Ada yang menarik dari pasangan calon no 3 Anies-Sandi. Bukan terletak karena kedua orang tua mereka adalah sahabat sekolah, melainkan ada sesuatu yang ditawarkan. Melihat akan adanya masaalah Jakarta dan tahu bagaimana solusi yang diambil. Meskipun dalam tatanan kenyataannya tidak mudah diterapkan, tapi bukan berarti hanya janji surgawi yang di obralkan.
Jakarta sudah terbingkai karena macet. Kota tersibuk dari kota-kota di Indonesia. Menyelesaikan masalah ini masih hanya tertulis dalam lembaran pengesahan yang ditandatangani oleh Gubernur sebelumnya. Ada yang harus kita ketahui dari Pasangan Anies-Sandi prihal Transportasi.
Dalam situs http://jakartamajubersama.com/transportasi-terintegrasi, saya menemukan 3 point penting dalam menyelesaikan permasalahan in di Jakarta.  
Saya sudah merangkumnya dalam sebuah tabel berikut;
NO
Jakarta (Masalah yang ada)
(Solusi) Untuk Jakarta
1
Kurangnya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan program transportasi.
Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) dan Forum Lalu Lintas yang ada unsur masyarakat di dalamnya, tidak efektif. Masyarakat bahkan jarang mengetahui keberadaan lembaga tersebut.
Transportasi umum GRATIS untuk warga miskin, lansia, guru, PNS, anak sekolah, dan warga tidak mampu pemegang KJP dan KJS
2
Masterplan transportasi Jakarta lama tak diperbaharui, seharusnya dievaluasi setiap 5 tahun, sesuai dengan amanat UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (No. 22/2009). Dokumen terakhir yang ada adalah Pola Transportasi Makro (PTM) 2007. Bahkan Perda Transportasi (No. 5/2014) yang ditandatangani Gubernur Jokowi memerintahkan Gubernur Jakarta berikutnya untuk membuat Perda Rencana Induk Transportasi selambat-lambatnya tahun 2016.
Transportasi murah, aman, dan nyaman untuk seluruh warga Jakarta. Cukup Rp. 5000 sekali jalan, bisa ke mana saja.
3
Pengadaan bus hanya fokus pada bus besar dengan dana triliunan rupiah. Sedangkan peremajaan metromini sangat lambat. Bahkan angkutan perkotaan akan dihapuskan oleh Gubernur Basuki.
Lalu lintas tertib, selamat dan bebas macet.

Tawaran cerdas dari Pasangan Anies-Sandi tidak akan bisa terlaksana jika keduaya gagal terpilih menjadi Gubernur periode 2017-2022. Schedule untuk pemilihan Gubernur DKI jakarta bisa kita lihat pada tabel berikut;
No
Tanggal (2017)
Kegiatan
1
6 Maret – 4 April
Penetapan daftar calon pemilih
2
7 Maret – 15 April
Masa kampanye, termasuk debat Kandidat oleh KPU Jakarta
3
16 – 18 April
Masa tenang
4
5 – 6 Mei
Penetapan calon terpilih
5
20 – 1 Mei
Rekapitulasi penghitungan suara tingkat Kecamatan hingga Personal
6
19 April
Pemungutan suara

Beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan ketika berada di posisi (pemilih) adalah bukan mengambil sikap tidak memberi suara atau istilah lain golput. Tapi sebagai bentuk ikhtiar dalam terwujudnya makna kesejahteraan, maka finising goal tidak akan pernah lupa akan proese hari ini. Dan ketika PDKT para calon gubernur memperlihatkan kemanisan mereka, percayalah. Saat ini susah mencari karyawan negara yang tidak melakukan praktek tidak sehat. Namun, pertimbangkanlah mereka yang tidak melakukan korupsi imaginatif (fiksi). Maksud saya, beberapa kasus pengadaan barang yang keberadaan barangnya tidak ada. Contoh kasus bisa di cek langsung di http://ubb.ac.id/content/kpk-beberkan-modus-korupsi-pengadaan-barang-dan-jasa.

Pilihan terserah anda. Tapi pilih pemimpin yang bisa membangun kota bersama warganya.