Tampilkan postingan dengan label Mantra Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mantra Utama. Tampilkan semua postingan

10 Mantra Penyajian Berita yang Harus di Perhatikan Wartawan

sumber gambar: pexels
“Beda orang, beda gaya. Beda gaya, beda karakter, beda karakter, beda seragam”. Seperti halnya menulis. Apalagi menulis sebuah berita yang pada dasarnya merupakan naskah yang akan dipublikasikan menjadi konsumsi masyarakat banyak. Lain wartawan lain pula karakter tulisannya, padahal mereka memegang 10 prinsip penyajian berita yang sama. Apa saja ? Perhatikan satu persatu.
1 5W+1H
Merupakan teori klasik  tapi paling wajib dalam sebuah penyajian sebuah berita. Berisi what apa, who siapa, why mengapa, where dimana, when kapan How bagaimana. Teori ini seakan menjadi ruh dalam sebuah naskah berita. Jika sebuah berita tidak mengandung keenam unsur ini, anda dapat pastikan bahwa naskah tersebut bukan berita.
Contoh sebuah berita yang mengandung unsur 5W+1H. Buka link berikut: DuaGanda Indonesia Tumbang di Babak Pertama.
2. Piramida Terbalik
Merupakan persyaratan dasar dalam struktur penulisan berita oleh seorang wartawan. Penggunaannya menitikberatkan pada penulisan khususnya straight news, bukan feature. Jika digambarkan seperti ini;
      
3. Angle (Sudut Pandang)
Berbeda dengan mantra sebelumnya, ini adalah hal yang membuat seorang wartawan bisa dikenal. Bayangkan saja, tempat liputan sama, sumber berita sama, begitupun materi berita. Semua sama namun hasil yang diterima redaktur dari sejumlah wartawan berbeda. Ini musabab dari angle yang di ambil oleh wartawan tak seragam. Ilustrasi sederhananya, Jika wartawan A meliput peristiwa kebakaran dengan angle “kebakaran pasar Caringin merugikan sekitar 759 Jt”, beda dengan wartawan B yang meliput angle “kebakaran pasar Caringin menewaskan 45 orang karyawan yang sedang menjaga kios ”. Detail informasi tersebut hanya bisa terkuak melalui pengembangan dari teori 5W+1H.

4. Lead atau akronim dari teras berita
Merupakan unsur kedua setelah penamaan judul agar pembaca merasa penasaran dan menemukan informasi yang selama ini dicari. Seperti halnya orang ketika mendengarkan sebuah musik, orang sering tergoda tatkala mendengarkan intronya yang enak. Begitupun membaca, orang akan merasa interested banget ketika kita menyuguhkan kalimat yang dibalut bersama diksi yang pas.


5. Akurat/Akurasi
Nah ini termasuk penting juga. Wartawan profesional harus senantiasa menyuguhkan atau menyiarkan atau menayangkan berita yang akurat. Artinya tidak ada kesalahan dalam penulisan ejaan diri, tempat, istilah, jumlah apalagi keliru kala mempublikasikan data. Karena apa? Pasalnya ketika sebuah lembaga pers bertindak konyol (tidak akurat), mereka akan kehilangan kepercayaan, kredebilitas mereka sebagai lembaga pers dipertanyakan. Lebih parah lagi kehilangan reputasi dari pembaca / audiensnya. Makannya untuk mengantisipasi hal ini, ada beberapa langkah; Cek dan recek; Konfirmasi; Memelintir Berita.


6. Mengkloning berita
Perbuatan seperti ini tidak melanggar kode etik jurnalistik. Artinya pembuatan berita berdasarkan pada berita-berita yang sudah ada. Wartawan terkait tidak melakukan liputan langsung, hanya mengutak-atik atau memoles berita yg sudah ada. Tapi menurut penulis penyajian berita seperti ini tidak untuk direkomendasikan. Hanya untuk bahan informasi saja.

7. Bahasa Jurnalisik
Ini menjadi mantra selanjutnya, adalah bahasa. Wartawan adalah orang yang menceritakan kembali tentang suatu peristiwa. Jika wartawan yang berprofesi di media cetak, maka ia akan bercerita dengan bahasa tulisannya. Oleh sebab itulah, bahasa wartawan harus senantiasa singkat, padat, jelas, sederhana, lugas dan yang terpenting adalah selalu menarik.

8. Kode Wartawan
Dalam sebuah tradisi jurnalistik, setiap berita yang ditulis pasti menggunakan kode nama siapa penulis tulisan pembuatnya. Ini sebagai bentuk tanggung jawab jika nantinya ditemukan kesalahan dalam pembuatan laporan atau sebuah tanda jika wartawan tersebut bekerja dengan baik. Contoh sederhana Goenawan Muhammad (GM) atau Dahlan Iskan (DIS) begitu pula dengan Najwa Shihab (NSB).

9. BY Line
Ini kebalikan dari sistem kode wartawan. Istilah by line merupakan sebuah rujukan yang menyebutkan penulisnya tanpa alias / anonim. Pers di Indonesia mungkin bisa dikatakan nyaris tidak ada media yang menggunakan nama penulisnya. Mungkin baru The Jakarta Post yang menggunakan. Biasanya nama penulis ditulis tepat dibawah judul dan sebelum kata pembuka untuk lead di tulis.

10.  Deadline
Ini seolah menjadi jam pasir bagi seorang wartawan. Deadline atau batas waktu (tenggat waktu) adalah batas terakhir yang ditentukan oleh lembaga pers terhadap wartawannya untuk mengumpulkan laporan agar segera terbit. Untuk ukuran media cetak yang terbit skalanya tiap hari, deadline biasanya pukul 22.00 atau 24.00. Deadline menjadi vital dalam manajemen redaksi media massa. Karena mempertimbangkan aktualitas dari berita. Apalagi straight news.

Dan itulah kesepuluh mantra penyajian berita yang bisa anda pelajari sebagai langkah awal menjadi seorang jurnalis profesional. Selamat menjadi jurnalis.

Selain Jenjang karier, Nieman harus menjadi prioritas bagi Wartawan

sumber gambar: pexels.com
Sebagai pekerja profesional, wartawan juga mempunyai jenjang karier. Cepat-lambat dan sukses atau tidaknya karier seorang wartawan sangat bergantung pada kemampuan wartawan bersangkutan. Setiap dari jenjang karier ini mempunyai tahapan tersendri untuk mencapai puncak kariernya.

Biasanya, diawali dengan sebagai reporter yang bertugas mencari atau meliput berita di lapangan. Kemudian meningkat menjadi redaktur yang bertugas menangani halaman. Satu tingkat jabatan dengan ini, seorang wartawan biasanya diangkat menjadi koordinator liputan atau koordinator reportase. Selanjutnya melenggang menjadi pemimpin redaksi atau dalam dunia tv setara dengan jabatan seorang produser.

Hanya saja jenjang karier bagi seorang wartawan bukan terletak pada jabatan yang sedang dipegangnya. Karena karier seorang wartawan dikatakan cemerlang, mempunyai prestasi bagus adalah karena sebuah karya jurnalistiknya. Eksistensinya melejit di masyarakat luas bukan karena ia seorang redaktur pelaksana melainkan reporter biasa yang meliput peristiwa yang berkualitas.

Namun, ada hal yang lebih bergengsi dari pada sekedar mengejar eksistensi atau mengejar tampuk kepemimpinan dalam sebuah media pers. Adalah Nieman Fellowship, beasiswa dari Harvard University. Apakah Nieman Fellowship? Dikutip dari laman Nieman Fellowship,

“Nieman began as a fellowship for select journalists to spend an academic year at Harvard in pursuit of individual study plans to strengthen their knowledge and leadership skills. That program recently celebrated its 75th anniversary; more than 1,400 journalists from nearly 100 countries have been awarded Nieman fellowships since 1938. Recently we added a short-term visiting fellowship for individuals with a specific project to enhance journalism who would like to spend up to 12 weeks at Harvard advancing their idea. Visiting fellows have included digital innovators, technologists, academics, and journalists from the U.S. and abroad.

Dan sebagai pertanyaan lanjutan dari judul artikel ini, mengapa Nieman harus menjadi prioritas?

Karena indonesia butuh lebih banyak wartawan berkualitas. Memang banyak penerbitan baru atau pun pendirian radio-radio di Indoensia, hanya saja persoalan sumber daya manusia masih saja menjadi permasalahan yang tak kunjung usai. Dan di indonesia hanya ada beberapa Perguruan tinggi yang punya jurusan jurnalisme, sebut saja Unpad Bandung, IISIP Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Surabaya (Hasono; 21).

Dan Alternatif untuk memecahkan masalah ini adalah dengan dengan berburu beasiswa, ambil contoh Nieman Foundation di Harvard. Indonesia sejak Program ini berdiri 1938 hanya memiliki tiga alumni; Saban Siagaan (The Jakarta Post), Goenawan Muhammad (Tempo) , Ratih Hardjono (Kompas) dan Andreas Harsono (The Bangkok Post).

Bagaimana Untuk mendapatkannya ?

Mengutip Naskah Andreas dalam buku “Agama saya Jurnalisme” pendekatan mendapatkan beasiswa yang baik sama dengan cara kita mendekati suatu berita. Menggunakan teori klasik 5W+1H. Lebih banyak detail yang kita dapatkan lebih baik. Selain itu, kita juga sebisa mungkin harus mendapatkan rekomendasi​ dari instansi  terkait yang mempunyai hubungan baik dengan kurator Nieman Foundation.

Selain itu, anda jangan terlalu berambisi untuk  mendapatkan beasiswa Nieman, pasalnya hal yang harus menjadi fokus utama adalah bagaimana cara anda melakukan persiapan dan riset. Karena hal ini yang bisa membantu anda mematangkan proses seleksi.

Sebagai catatan terakhir, soal bahasa inggris, jangan terlalu dipikirkan karena hal utama dalam penilaian ini adalah, sejauh mana anda faham dalam dunia pers dan jurnalistiknya. Mungkin ukurannya adalah kemampuan kita untuk berdebat atau membuat laporan tentang jurnalisme. Atau setidaknya kita paham dengan apa yang dikatakan dosen ketika memberikan materi.

Karena kemampuan berbicara anda dalam bahasa inggris akan terbawa oleh kawan-kawan kita yang mayoritas orang Amerika dan mereka bicara bahasa inggris sejak bayi.
Selamat Mencoba. 

Mengapa Harus Kartini? Karena dia Menulis.

Pengkultusan terhadap Kartini sebagai perempuan yang dianggap mempunyai jasa kepahlawanan bermula pada tanggal 02 Mei 1964. Adalah presiden Soekarno yang mengeluarkan Keputusan presiden republik Indonesia No.108 Tahun 1964, Menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahirnya tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian terkenal dengan Hari Kartini.

Perdebatan dari beberapa ahli sejarah tentang pengkultusan Kartini dirasa berlebihan. Pasalnya, mereka berpendapat bahwa perempuan yang mempunyai jasa pahlawan bukan saja hanya Kartini. Masih ada Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah.

Bagaimana perjuangan mereka melampaui setiap gagasan yang dikeluarkan oleh Kartini, Mereka adalah para perempuan hebat yang turut berjuang dalam memajukan sumber daya manusia terutama terhadap perempuan. Dewi Sartika bukan hanya idenya tentang pendidikan untuk perempuan, ia berhasil mendirikan sekolah khusus untuk perempuan. Begitu juga dengan Cut Nyak Dien yang tidak pernah memberikan kemerdekaannya kepada Belanda.

Terlepas dari segala perdebatan tentang kelayakan pengangkatan hari nasional untuk kartini, apa yang dilakukan Kartini merupakan bentuk semangat yang tertuang dalam ruh seorang perempuan. Pemikirannya mengkritisi tentang paradigma perempuan sebagai kelompok minoritas. Hal ini memunculkan stigma bahwa perempuan itu lemah. Sehingga  perempuan seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Perjuangan yang dilakukukan oleh Kartini sampai sekarang belum sampai pada titik puncak untuk dikatakan berhasil. Berbeda dengan perjuangan yang dilakukan Dewi Sartika dan Rohana Kudus, yang sudah berhasil membebaskan belenggu perempuan untuk tidak bersekolah dan berkarier.

Namun perlawanan Kartini terhadap perlakuan diskriminatif terhadap perempuan merupakan gerakan menuntut kesetaraan gender (feminisme). Terlepas dari agenda politis Belanda yang memilih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia ataupun sebagai bentuk menghilangkan beberapa pihak yang mempunyai sejarah sama dengan Kartini.

Karena Kartini Menulis

Ungkapan Pram tentang menulis seolah menjadi mantra nyata bagi Kartini. “Menulis adalah Bekerja Untuk Keabadian”. Pikiran Pram tentang menulis yang terjawantahkan lewat kata. Kartini melakukanya, ia menuliskan pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Ia menuntut bahwa tindak diskriminasi terhadap perempuan dihapuskan. Ide kartini tertuang dalam tulisan dengan bentuk surat.

Selain itu, surat yang ia kirimkan kepada Abendanon dan teman-temannya di Eropa mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju dengan mempunyai pendidikan tinggi dengan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Latar belakang ini sangat kontras dengan yang dihadapi Kartini.

Sebagimana kita ketahui, Ia lahir dan besar dalam suasana feodal yang kental, dimana kaum perempuan mendapat diskriminasi yang luar biasa. Tidak bisa leluasa mengembangkan sisi intelektualitasnya sebagaimana laki-laki. Tapi hebatnya meski tumbuh dalam suasana penuh tekanan seperti itu, Kartini tetap mampu tumbuh menjadi sosok yang kritis.


Kartini akan selalu abadi, hanya saja keabadiannya masih dalam kata yang dinaskahkan. Selamat Hari Kartini

Menyiapkan Naskah Feature


Bagi kalangan praktisi media, feature (picer) adalah jenis tulisan yang akan menentukan ciri khas dari sebuah lembaga pers miliknya. Selain karena tulisan ini mutlak ditulis oleh redaksi sebuah media cetak, baik yang skala mingguan ataupun bulanan, juga menyajikan informasi “lebih” yang sukar ditemukan dalam naskah berita jenis straight news.

Apa alasan feature menjadi naskah yang khas adalah karena ia mampu menuturkan fakta disertai dengan penjelasan kronologi, pembentukan kejadian dan cara kerja sebuah peristiwa bagaimana terjadi. Selain itu naskah ini tidak melulu menggunakan teori klasik pembuatan berita dengan 5W+1H
.
Feature lebih mengedepankan unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) sebuah peristiwa bisa terjadi. Identifikasi untuk mengetahui sebuah naskah bergenre feature bisa kita gunakan dua langkah sederhana;
Satu. Feature merupakan  naskah yang mengandung human interest artinya naskah yang mampu menggiring pembaca untuk menaruh simpati ataupun empati, terhibur atau merasa terharu.

Dua. Bahasa yang dipakai dalam naskah ini tidak baku, feature tidak segan untuk menggunakan bahasa sastra dalam naskahnya oleh sebab itu, tulisannya hampir mirip dengan gaya penulisan baik cerpen atau pun novel.

Maka dalam beberapa referensi bacaan saya, kita bisa membedakan tipe feature dari jenisnya;
Jenis feature yang membahas tentang riwayat hidup seorang tokoh inspiratif, berjasa  apalagi dengan segudang prestasi atau seseorang yang memiliki keunikan tersendiri. (Feature Pribadi-Pribadi Menarik).

Jenis feature kunjungan ke tempat bersejarah, wisata kuliner ataupun berkunjung ke tempat yang keberadaannya terdengar asing dan jarang di jamah banyak orang. (Feature Perjalanan).

Feature yang naskahnya fokus membahas peristiwa masa lalu, contoh kejadian Mei 89 (Trisakti) dengan menggunakan angel baru sehingga menimbulkan kesan masih aktual.

Struktur tulisan

Struktur feature biasanya tersusun menggunakan pola kerucut terbali, yang terdiri dari; Judul (Head), Teras (lead), Bridge/Jembatan antara lead dan body, Tubuh (Body) dan Penutup.


Sebagai catatan penting dalam menyiapkan naskah feature adalah;lead (prolog) sangat berperan penting dalam membangun tulisan sehingga menarik perhatian. Karena disini berisi hal terpenting untuk membuat pembaca merasa penasaran dalam naskah yang disuguhkan.

7 Manfaat berkomunikasi yang sering kita abaikan !

sumber gambar: unplash.com
Ada cerita tentang mengapa kita harus berkomunikasi dengan baik, bagaimana pula isi muatan komunikasi (pesan) bisa tersampaikan sesuai maksud si komunikator. Orang sering menganggap bahwa komunikasi tidak perlu dipelajari dengan serius, sebab komunikasi merupakan rutinitas yang selalu melekat dalam lingkup kehidupan manusia.

Kita bisa belajar dari peristiwa bom Hirosima menjelang akhir perang dunia II yang  terjadi akibat gagal dalam berkomunikasi. Kata mokusatsu yang mempunyai makna “Kami akan mentaati ultimatum Tuan tanpa komentar” diartikan oleh MacArthur sebagai “mengabaikan”. Akibatnya ia melaporkan kepada Truman “sang Presiden” untuk menjatuhakan bom atom.

Komunikasi memang sesuatu yang mudah untuk dikerjakan. Tidak ada yang sukar tentang komunikasi karena ini merupakan kemampuan alamiah. Seperti halnya kita tidak perlu mempelajari bagaimana cara berjalan, atau cara makan. Keterampilan ini merupakan bakat yang diperoleh dari sifat bawaan.

Dan setidaknya ada 7 mantra manfaat komunikasi agar kehidupan kita selamat.

7. Komunikasi merupakan proses pertukaran informasi dengan orang lain, hal ini yang membuka jendela pikiran kita, merubah pola pikir, atau pun cara pandang kita dalam melihat suatu fenomena. Selain itu, komunikasi bisa memperkuat dan memelihara daya ingat.

6. Menambah Jaringan (relasi, link). komunikasi bisa menciptakan hubungan dan memupuknya sebagai bentuk menambah jaringan dengan orang banyak. hal ini sangat membantu untuk menjalankan roda kehidupan di masyarakat.

5. Komunikasi bisa dijadikan tumpuan sebagai proses penyelesaian tugas kita sehari-hari. Bagaimana kita memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, dan juga gadget dengan melakukan komunikasi dengan baik.

4. Hal yang bisa dilakukan oleh komunikasi terhadap kehidupan kita adalah melakukan kontrol terhadap lingkungan juga psikologis manusia. Bagaimana fungsi komunikasi ini merupakan salah satu yang penting, bagaimana cara kita mengendalikan  orang atau bagaimana cara orang lain mengendalikan kita. Dan hal ini yang mempengaruhi sistem tatanan kehidupan di masyarakat.

3. Komunikasi bersifat persuasif, bagaimana orang bisa tertarik dengan apa yang kita “lontarkan” apa yang menjadi pendapat kita bisa diterima orang lain. Bagaimana kita bisa mengkombinasikan pesan untuk disampaikan sesuai dengan target. Komunikasi bisa melakukan hal itu.

2. Ini saya dapat dari pendapat Thomas M Scheidel tentang manfaat komunikasi adalah Koumunikasi mampu membangun kontak sosial dengan orang disekitar kita. Ini kiranya hampir sama dengan point nomor 6, namun ada perbedaan sedikit. Membangun kontak sosial adalah kegitatan yang dilakukan dalam lingkup masyarakat dengan skala kecil.

1. komunikasi bisa melakukan bagaimana cara branding terhadap diri sendiri. Apa yang selama ini menjadi bakat dalam diri, potensi yang tersembunyi atau kemampuan yang kita miliki, jika kita gagal mengkomunikasikan kepada orang lain, sampai kapan pun orang tidak akan pernah tahu potensi apa yang bisa digali dari anda untuk dimanfaatkan.

Sepertinya itu 7 mantra sakti yang harus anda ketahui dalam menjalankan komunikasi dengan baik. Karena komunikasi menentukan dimana anda mendapatkan posisi. Seperti apa anda bersikap dan bagaimana cara anda mengahadapi masalah.

Menemukan Cara Menulis Naskah yang Baik

sumber gambar: pexels.com

 Menulis itu perlu “tahu dan keberanian”

"Ketika Pramodya Anantatoer berujar “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama  ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dalam kepenulisan sendiri, Andreas Harsono dalam bukunya Agama saya Jurnalisme menuliskan dua syarat sederhana bila kau ingin “bekerja untuk keabadian” : kau harus tahu dan dan kau harus berani. Apakah itu? yang dimaksud dengan berani dan tahu itu sebenarnya mudah, hanya saja tergantung orang merepresentasikan keduanya. Hal yang perlu semua penulis perhatikan adalah sejauh mana kita menguasai isu yang akan ditulis. Tak perlu menulis tentang idealisme dan wacana yang terlalu berat untuk dikonsumsi karena tulisan yang baik itu adalah ketika orang berhenti selesai membaca mereka bisa mulai berfikir bukannya mereka malah mengulangi tulisannya karena tidak mudah dicerna."
Penulis tak lantas membebek orang lain menulis. Mereka sok pinter mereka sering tak tahu perdebatan-perdebatan yang sudah dilakukan orang-orang macam Michael Sandel dan Thomas Friedman soal globalisasi. Mereka tak tahu kebohongan Mohammad Yamin atau Nugroho Notosusanto dengan apa yang dinamakan Pancasila. Ada ratusan teori soal demokrasi dan mereka belum baca tuntas semuanya. Pakai kata-kata sederhana. Kalimat pendek-pendek.
Mungkin kita mengenal kedua sosok penulis yang banyak tahu dan memiliki keberanian. Sebut saja Widji Thukul dan Pramodya Anantatoer dua  penulis hebat yang pernah dimiliki bangsa ini. Thukul mulai menuliskan masalahnya sehari-hari lewat sajak-sajaknya yang membangun. Dalam sajaknya yang berjudul Tentang sebuah gerakan ia menuliskan “Tadinya aku pengin bilang aku butuh rumah tapi lantas kuganti dengan kalimat: setiap orang butuh tanah. Ingat: setiap orang! ”.
Sebagai langkah pertama, riset merupakan salah satu bentuk usaha dalam menambah rasa ingin tahu. Membaca atau mewawancara orang adalah jalannya dan ketika hendak melakukan pengutipan lakukanlah kejujuran dan ketransparansian. Mulailah dari hal kecil. Kelak tanpa sadar kita akan sadar bahwasannya telah banyak buku yang dibaca, dan tanpa sadar pula telah ribuan orang yang diwawancara.
Namun, tahu saja tidak cukup. Pasalnya banyak orang yang tahu masih saja tidak bisa menulis karena tidak memiliki keberanian dan nyali dalam mempublikasikan idenya. Pram dipenjara Belanda, Soekarno dan Soeharto juga. Perpustakaan Pram dibakar tentara. Bukunya habis. Kupingnya budek gara-gara hajaran serdadu. Thukul apalagi, hilang tak tau rumbanya dimana.
Mereka berdua tahu kesusahan tetangga mereka yang tukang jahit dan mereka pula tahu kebobrokan tirani pada zamanya. Dan mereka memiliki keberanian untuk menuliskannya untuk membela rakyat jelata. Sosok mereka dibutuhkan hari ini.
Andreas berbagi pengalaman, sebagai seorang wartawan yang sarat akan pengalaman ia kenal banyak wartawan ibu kota negeri ini. Mereka tahu soal kebusukan petinggi negeri ini. Mereka tahu redaktur mereka mulai sering ditelepon bedinde-bedinde si petinggi. Kok nulis ini? Kok nulis itu? tapi mereka tak punya keberanian. Mereka tahu bisnis mereka terganggu. Maka “imbauan” si bedinde di ikuti.

Akibatnya, banyak cerita di belakang layar padahal menarik, tidak bisa lantas di kupas tuntas. Kau maklum saja. Mereka tak punya keberanian macam Pram dan Thukul. Mereka lebih takut ditegur redakturnya. Mereka ketakutan macam anjing sembunyi ekor dibalik pantat. Pesan dalam bukunya tertulis. Maka ada dua syarat sederhana kalau kau ingin menulis. Kau harus tahu sekecil apapun yang kau tulis. Dan  kau harus berani. Sudahlah !

Menjadi SmartPHONE

sumber gambar: www.pexel.com

Mengambil sikap membatasi diri untuk menjauh dengan teknologi sudah bukan menjadi pembahasan yang menarik. Internet misalnya, tumbuh pesatnya pengguna internet akan berbanding lurus dengan pengadaan  tower jaringan di setiap sudut tempat. Dalam tulisan saya sebelumnya, sudah membahas bagaimana pertumbuhan pengguna internet di berbagai negara berdasarkan populasi. Dan hasilnya luar biasa.
Adalah smartphone berbasis android atau IOS yang mengubah cara beraktivitas menggunakan jaringan internet terasa mudah. Dimanapun anda, serta apapun yang anda lakukan smartphone merupakan alternative anda dalam berkisah. Ia sanggup menampung apapun keluh kesah, berbagai rupa bahagia, juga tak jarang ikhlas kala dibagi masalah.
Apapun argumennya, kehebatan smartphone ini tidak mudah begitu saja diruntuhkan. Meskipun selalu ada dua sisi ini yang menjadi pertimbangan. Dalam bukunya The Shallow karya Niccolas Carr, dalam bab pertama ia memberi judul “Penjaga dan Pencuri”. Dua kata ini bisa saja serta merta mewakili apa yang dilakukan internet terhadap kita.
Satu sisi, ia adalah penjaga agar kita selalu up to date terhadap informasi yang sedang terjadi dan juga tetap terhubung dengan orang-orang yang berada di luar sana. Sisi lain, Mencuri watak in-­command kita. Kita tidak berdaya memegang nilai independen pada diri. Bagaimana bersikap? Bayangkan saja, McLuhan mengungkapkan, “internet mengubah pola persepsi secara terus menerus dan tanpa ada perlawanan”.
Berbagai informasi selalu tersaji dalam layar genggaman, swap dengan satu tarikan jari, bisa mengantarkan penggunanya ke berbagai destinasi tergantung hal menarik yang diminati. Mungkin itu salah satu yang menyebabkan internet sulit untuk ditinggalkan.
Meskipun sajian informasinya sering ditemukan bias keabsahannya. Isu tentang hoax tidak serta merta digubris para user untuk meninggalkan kejahatan internet di smartphone. Beberapa orang ada yang mengingatkan, sebagian lagi sibuk menggunakan. Sehingga kebencian bukan lagi soal.
Tersebarnya konten di internet yang bersifat hoax (bohong) tidak bisa di identifikasi secara langsung. Pengunggah akan menikmati hasil postingannya sampai terbaca oleh jutaan oarang di dunia maya. Jika webnya terpasang iklan, ia akan menikmati pundi uang yang tersimpan dalam rekening miliknya. Hal  ini yang menjadikan hoax bertahan. Penggemarnya banyak.
Namun hanya ada satu hal yang mengetahui tentang status sebuah informasi itu bohong atau benar. Ia adalah smartPHONE.