Media Sosial; Imaginatif Berbentuk Nyata

Sumber Gambar: Google
Merubah kata menjadi nada adalah hal imaginatif yang melahirkan berbagai prasangka, salah paham, curiga, dan tidak terlepas dari hal mengerikan lainnya (multipersepsi).
Manusia menemukan cara dalam era digitalisasi (internet) untuk tetap menjaga hubungan baik antar sesama, meskipun aktivitas komunikasi yang terjalin melalui nirkabel jaringan ini masih hanya bersifat cepat guna.
Meskipun dalam tataran teknisnya mudah, komunikasi melalui chatting room, baik dalam PC atau Multiplechat, masih banyak ditemukan user yang tidak dewasa dalam memahami pesan yang terenkripsi pada layar smartphone-nya.
Beberapa waktu lalu, pernah saya merasa kecewa. Begitupun anda. kecewa terhadap apa yang selama ini terbayang dalam sebuah ekspektasi. Namun terkadang tidak sebanding dengan realita yang ada. Karena, menghilangkan logika dalam setiap lingkup situasi dan kondisi serta menggantinya dengan sudut pandang emosional adalah sebuah kekeliruan. Sehinga muncul sentuhan kata pertama pada hati “terkadang orang tidak pernah peduli dengan kerja baikmu, karena sebenarnya mereka terlalu antusias ketika anda melakukan kesalahan”.
Hanya saja, jera bukan kata untuk di pilih sebagai tindakan. Alasannya mudah, semua tentang people's adalah permainan yang tidak baik untuk ditinggalkan. Permainan yang selalu membuat kita naik dari tingkat 1 melangkah ketingkat selanjutnya. Menghargai proses, sabar akan do’a dan selalu percaya pada setiap hasil usaha. Menemukan mozaik yag hilang dalam pikir, bahwa setiap kerja keras, ada kekuatan yang tidak perlu melibatkan orang lalin. Dan bukan hasil yang mencederai usaha, tapi sejauh mana kita menemukan nilai-nilai kegagalan dalam perjuangan.
Sehingga ketika saya menjerit melakukan ritual penghambaan, Tuhan berbisik disebelah daun telinga kanan. “Jangan terlalu menggantungkan diri pada Tuhan, Karena mungkin Tuhan yang bergantung pada kita”, Anda bisa mendengar kutipan diatas pada film Manjhi The Mountain Man. Begitulah media sosial, selalu asyik tapi tak jarang membuat konflik.
Tapi sudahlah, tentang kondisi yang kita hadapi, kita terlalu sering menyalahkan orang lain. Mindset kita tidak pernah berinovasi untuk menciptakan sesuatu sebagai solusi. Merelakan jatah waktu untuk merindukan ruang sendiri dalam pelukan adalah abstraksi yang tertuang dalam kata. Seberapa tidak spesialkah ananda untuk dirindukan? Tapi, setiap orang mempunyai orientasi. Bukan? Membuat agenda yang menjadi aturan dalam keseharian. Melakukan aktivitas sebagai jalan untuk memulai mengeksekusinya. Where do i Start?
Hanya saja selalu membekas dalam lamunan, saya tidak begitu saja ikut berbalik lalu pergi saat sosial media meniggalkan. Namun, setelah saya tahu kamu tidak pernah kembali, Untuk apa saya menunggu ? melelahkan saja. Sedangkan kamu? Pergi melupakan kenangan kerinduan, masa dimana aku yang selalu mengalah, waktu dimana aku mencoba selalu up date, kesempatan yang selalu aku tukarkan dengan bahagiamu. Meski sedikit berlebihan, aku tidak pernah menuntut kamu untuk tampil all out, hanya saja kamu menuntut aku untuk melakukan apa yang kamu inginkan. terimaksih facebook, twitter dan instagram. Seperti pencaga dan pencuri.
 Seperti kemarin, kamu menangis dalam dekap dadaku, meminta perlindungan, mencari kekuatan untuk menghilangkan kelemahan. Ku kecup kedua mata mu yang berderai air mata. Mengapa aku merasakan hal yang sama? Penglihatan ku merasakan bahwa luka itu membawamu mengeruk emosi, tampias wajahmu seolah meradang ingin bersamaku, untuk selamanya. Tapi mengapa, ada pengecualian dalam kepercayaan. Dan ini bukan kali kedua.
Hanya ada satu hal dan ternyata itu adalah mantra sakti, dan penuh inspirasi. Tercipta sebagai satu kalimat yang tersusun dari kata asing “we can do anyone, we can do anything”. Terjemahkanlah sendiri. Apa yang tersampaikan begitu jelas membekas, seolah antimateri yang kehilangan energinya, ia akan meledak dan menghancurkan tempatmu hilang dalam cahaya. Selamat berselancar di dunia maya jangan lupa pakai sabuk pengaman.

Artikel Terkait

1 komentar so far

Yu para user untuk pintar dalam menggunakan media sosial.


EmoticonEmoticon